Love never last? Or it’ll be last forever?


“Usagi mo sora de te o futte miteru   dekkai o-tsuki-sama
Ureshii koto   kanashii koto mo   zenbu marumete”

The rabbit is trying to wave in the sky; the huge moon
Is rounding up everything, happy things and sad things, too

Penggalan lirik lagu di atas membuatku terus berusaha percaya apa itu namanya cinta abadi (meski tak ada kata-kata cinta di dalamnya). Bahagia dan sedih membaur menjadi satu. Terus tegar menjalani hidup dengan cinta ataupun jika suatu saat nanti hidup tanpa cinta.

Di dunia ini tiada yang abadi. Manusia tak abadi. Karena manusia pasti akan mati. Makhluk hidup, benda mati, ilmu pengetahuan dan teknologi tak ada yang abadi. Robot secanggih apapun suatu saat nanti pasti hanya akan menjadi sebuah rongsok. Rongsok yang tak ada gunanya, rongsok yang hanya memenuhi deretan dari daftar rongsok-rongsok lainnya.

Begitu pula dengan cinta.

Tak pernah ku saksikan sebuah realita tentang cinta, yang terus ada hanya pada satu orang yang sama sampai akhir hayatnya. Semua selalu berakhir, kandas di tengah jalan. Larut seperti gula di dalam secangkir air hangat. Larut hanya karena cinta baru yang menyambutmu dengan haru biru.  Meninggalkan yang lama karena tidak nampak lagi cahaya dalam dirinya. Redup seakan ingin mati.

Manusia itu mudah berpaling, berpaling pada sesuatu yang lebih bersinar dibandingkan dengan miliknya saat itu. Karena manusia itu rakus. Manusia itu serakah. Manusia itu tidak ada habisnya, tidak pernah selesai apa keinginannya.

Manusia itu hanya bisa mencela, tanpa sadar bahwa dirinya lah yang membuat celaan yang muncul dalam diri yang dia punya. Tidak sadarkah bahwa manusia itu tak ada yang sempurna?

Hal yang dulu selalu ku jauhi karena ku benci, kini hal itu datang menerjang dalam hidupku. Entah dosa apa yang pernah ku perbuat. Dengan mudahnya badai itu datang, dengan entengnya badai itu menerkam.

Kenapa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, kalau memang kebanyakan hal itu membuat luka yang dalam. Kenapa Tuhan mentakdirkan seseorang bersama seseorang yang lain, kalau memang mereka terlalu bertolak belakang.

Jodoh itu yang seperti apa? Berbentuk bulat? Persegi? Kotak? Lonjong?

Kalau memang Tuhan benci dengan yang namanya “perpisahan”, kenapa engkau membiarkan “perpisahan” itu ada.

Kenapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda? Kalau perbedaan itu menyebabkan adanya “perpisahan”. Kenapa Tuhan tidak menciptakan semua manusia itu sama? Agar mereka dapat dengan mudah saling mengerti dan saling memahami.

Maybe I know somewhere deep in my soul that love never lasts.

Mungkin memang benar, jauh-jauh di dasar lubuk hatiku yang terdalam cinta itu tidak ada yang abadi. Meskipun saat ini aku tengah berupaya mempercayai bahwa cinta itu akan bisa abadi. Namun, bisakah cinta abadi itu aku temukan dalam dirinya saat ini?

Tak bisakah manusia saling memaafkan? Tak bisakah manusia saling memberi kesempatan? Bahkan Tuhan pun masih memberikan maaf dan kesempatan-Nya.

Advertisements
Published in: on September 5, 2010 at 10:25 PM  Leave a Comment  
Tags: , , ,

The URI to TrackBack this entry is: https://thefirefliesglow.wordpress.com/2010/09/05/love-last/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: