The Hope of The Witch (Prologue)


Have you ever think that someday you’ll become the happiest woman in this universe?

Have you ever think that somebody will love you even you were a witch?

I mean being a witch is better than being a bitch.

I wonder it when.

Seberapa beruntungnya kah dirimu akan percintaan? Mendapatkan seorang laki-laki yang mampu memberikanmu kebahagiaan lahir dan batin itu sama seperti mencoba bernafas dalam air tanpa alat bantu. Kecuali dirimu adalah ikan, maka hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun, lihatlah dirimu sekarang. Kamu bukanlah seekor ikan. Kamu hanyalah seonggok daging dengan susunan saraf dan tulang yang sedemikian rumit diciptakan oleh Tuhan. Meski memiliki kecerdasan, belum tentu semua manusia mampu mempergunakan dengan semestinya. Ya, sama seperti aku juga dia.

            Pernahkah kamu merasa bahwa dirimu dibodohi oleh sesuatu yang bernama cinta?

Itulah yang aku rasakan saat ini. Entah kesalahan apa yang sudah aku perbuat di kehidupanku sebelumnya –jika kamu percaya akan hal itu- hampir semua laki-laki yang pernah menjadi kekasihku bisa dibilang memiliki satu kesamaan. Mungkin memang sifat laki-laki begitu. Tapi bagaimana perasaanmu saat melihat teman-temanmu bahagia dan bangga akan kekasih mereka? Di saat mereka kesepian, kekasih mereka siap menemani. Di saat mereka terkena musibah, kekasih mereka ada untuk memberi kekuatan.

            Pernah aku menyaksikan sendiri betapa beruntungnya sahabatku memiliki lelaki seperti kekasihnya saat ini. Seberapapun marahnya dia, seberapapun jauh jarak mereka, tak pernah ada bayangan perpisahan dalam diri mereka. Mereka tahu dimana saatnya saling mendukung, saling menemani, dan saling member. Di saat si wanita jatuh, si lelaki membuatnya berdiri kembali, begitupun sebaliknya. Bukannya justru pergi mencari kesenangan demi memuaskan ego pribadi.

            Pernahkah kalian berpikir apa yang telah lelaki kalian lakukan sebelum mendapatkanmu jauh berbeda dengan setelah dia mendapatkanmu? Aku yakin hampir semua menjawab “Ya, berbeda.” Lalu, menurut kalian mengapa hal itu bisa terjadi?

            Biarkan aku bercerita sedikit tentang orang-orangku di masa lalu. Dulu sekali, ada satu orang laki-laki, aku mengenalnya terhitung lama sebelum akhirnya kami memutuskan untuk mencoba bersama. Setelah sekian lamanya dia menyatakan cinta –meski pada awalnya tidak kuterima- namun karena ketekunannya merubah dirinya sendiri maka dengan berani aku memberikannya kesempatan yang terhitung langka. (Ya masa bodoh apa pendapatnya tentang hal ini). Dan kalian tahu apa yang terjadi hanya kurang dari satu 2 tahun, dia membuka kedoknya. Saat dia berusaha kabur, aku mendesaknya untuk berkata bahwa “Ya, aku melakukan itu hanya untuk mendapatkanmu. Dan sekarang aku tidak tahu harus bagaimana terhadapmu.” Apa yang terjadi setelah itu? Mari kita lanjutkan kepada orang kedua.

            Sebut saja dia Dewa, karena dia merasa seperti itu. Kalian tahu sifat Dewa? Bukan Dewa yang ada di surga, tapi Dewa yang ada di neraka. Dewa Kematian? Bisa jadi. Dia keras, lebih keras dari batu, bahkan batu pun bisa hancur terkikis perlahan oleh air.  Arogan, sombong, keras kepala, dan ambisius, begitulah dia. Ya paling tidak si Dewa yang aku kenal saat itu ya berbentuk seperti itu. Dia selalu merasa di atas angin, saat dia melakukan kesalahan, semua menjadi salahku, selalu. Mengalah, mungkin hanya beberapa waktu. Serba bisa katanya, tapi membahagiakan dirinya sendiri pun tidak bisa, apalagi orang lain. Mencintai dengan menerima apa adanya itu bullshit katanya. Aku dibuatnya seperti boneka meski itu kulakukan hanya dihadapannya. Ya meski begitu dia memberi banyak pelajaran berharga, setidaknya jika dibandingkan dengan orang ke-tiga berikut ini.

            Dia setan. Pernahkah kalian melihat panda kerasukan si babi dari 3 bersaudara murid biksu Tong? Ya itu dia. Bayangkanlah dia seperti itu. Kenapa bisa begitu? Ah malas rasanya untuk bercerita yang satu ini. Karena sudah kuberi clue nya maka kalian tebak sendiri.

            Dan masih beberapa orang lagi di masa lalu yang notabene memiliki kesamaan: Dikejar saat ingin, ditinggal saat bosan.

            Lalu yang ketiga? Hemm..

            Dia lebih tepat dikatakan seperti babi berbulu kucing, berusaha terlihat lucu dan menggemaskan, namun tetap saja terlihat seperti babi. Memaksakan sesuatu yang sudah jelas tidak bisa lagi dirubah. Mencoba menyalahkan masa lalu tanpa pernah berusaha untuk merubah hidup tidak jelasnya.

            Bukan hal yang mudah awalnya untuk terlepas dari jeratan orang ketiga ini. Dia pandai menipu daya wanita diluar sana. Mengadu domba sudah menjadi hal biasa baginya. Bermain boneka meski dia tau cap apa yang akan dia dapatkan jika dia teruskan. Dia terlalu tolol untuk menjadi gigolo. Karena menyembunyikan bangkai sisa dia makan saja tidak bisa. Bekasnya berhamburan dimana-mana. Baunya tercium kemana-mana. Dan dengan bodohnya dia masih berkata itu bukan bangkainya.

            Membuktikan pada dunia sepertinya percuma. Karena dia akan menjadi seperti itu untuk selamanya.

            Kata orang “biarkan saja. Waktumu terlalu berharga untuk mengurusi dia.”

            Jika diriku tidak ditarik masuk kembali pada permasalahan mereka tak apa. Namun mereka dengan sengaja membawaku kembali pada dunia fana yang penuh dosa. Mencoba tak acuh tak bisa. Tuhan memberikanku berkah untuk berfikir dan berbicara tapi tidak digunakan semestinya untuk apa? Membiarkan hal bodoh terulang kembali meski pada mereka yang tidak ada hubungan sama sekali.

            Well at least sarcasm is made for those who don’t want to go to jail.

            Tersinggung? Masalahmu.

            Kuluapkan semua hal-hal bodoh tentang babi yang satu ini pada dunia. Lebih baik aku dianggap bodoh oleh mereka yang hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa, daripada menjadi babi yang sama seperti mereka.

            Reality is a bitch, and you should admit it. Don’t hope to fly high if you ride a pig without wings to fly into the sky. Or you just fly in the bottom of the earth? I mean hell’s waiting for you.

Advertisements

The URI to TrackBack this entry is: https://thefirefliesglow.wordpress.com/2014/05/19/the-hope-of-the-witch-prologue/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: